Senin, 17 Agustus 2015

Selamat Ulang Tahun

Kurang tiga puluh menit sebelum tengah malam, kutau Tuhan selalu terjaga sekalipun dunia sedang terlelap
Sungguh aku sangat ingin bertamu, mengajakNya bercengkrama, dan mengenalkanmu kepadaNya.
Sedikitnya, akan kukatakan bahwa sebentar lagi usiamu bertambah setahun.
Semoga kamu senantiasa dirahmatiNya.
Semakin bertambah usiamu, semakin aku ingin tenggelam dan tak ingin menjadi dewasa. Semoga ini tak memberatkanmu.
Sebelum kembali karena secangkir kopiku kini hanya tersisa ampasnya, sekali lagi kuminta kepada Tuhan agar kau senantiasa sehat, tetap sehat, dan harus baik-baik saja.
Happy birthday!!

Jumat, 14 Agustus 2015

Undangan

Apa kau tak ingin kembali?
Hari ini sajakku merayakan harinya yang ke tiga ratus enam puluh lima
Datanglah walau hanya sekadar berucap doa panjang umur dan murah rezeki
Demi kemurahan hati tuan rumah
Kuberimu waktu sampai empat dari lima lembar yang tersisa
Banyak yang perlu kusiapkan karena itu datanglah lebih awal
Agar kita dapat mengisi lembar terakhir bersama-sama

Makassar, 13 Agustus 2015

Kamis, 16 Juli 2015

Satu Syawal Ketiga Kita

Perasaanku ternyata tak pernah berubah setiap kali aku berdiri pada hamparan kesedihan, tepat ke arah selatan aku memandang ke belakang. Jauh ke belakang. Sangat jauh.
Peganganku ternyata tak pernah cukup untuk membuatku berdamai dengan hidup. Dengan latah aku mengeja satu persatu usaha yang telah kubangun. Ah gagal!
Tidak apa-apa, setidaknya kedatanganku hanya untuk mendoakanmu sekaligus menebus rinduku padamu. Juga pada Tuhan kita.
Aku gemetar, sayang! Aku gugup, aku menangis dengan air mata yang telah usang.
Hari ini adalah tahun ketiga aku berkunjung, satu syawal ketiga aku menekur pasrah di hadapan nisanmu. Itu berarti ini sudah tahun ketiga kehendak takdir dan nasib memisahkan kita.
Doaku cukup sederhana, di sana kau menemukan kedamaian dan tak kesepian. Semoga ada kesempatan di satu syawal yang akan datang.
Alfatiha...

Maros, 17 Juli 2015

Kamis, 09 Juli 2015

Dua Sajak Renta (sebuah nama belakang)

#
Apa yang hendak kau curi dari seorang perenung sepertiku?
Kepunyaanku hanyalah sajak-sajak renta yang mulai udzur karena petualangan
Atau kau ingin mengambil yang itu?
kusarankan tidak perlu
Tak ada yang pantas dicuri dari apa yang telah kau miliki
Sejak dulu
Telah lama

#
Tidak akan kudapati aku yang bingung ketika memikirkan namamu tepat berada di belakang namaku
Tak ada alibi -mutlak-
Telah diatur dengan baik meski tergesah-gesah dan sepintas lalu
Maka dari itu tetaplah di sana dengan manis
Yang perlu kau lakukan hanyalah mendoakanku dengan baik
Karena kini, kau tentu lebih dekat dengan Tuhan

Kartini Ridwan_
Makassar, 9 Juli 2015

Rabu, 08 Juli 2015

Ini Tentang Kamu; yang terlalu menghakimi, sesekali menerima, dan sesering mungkin kuusahakan

Ada banyak cara untuk membunuhmu
Tapi aku lebih suka membayangkan pembunuhan tanpa rencana
Seperti halnya ketika aku menggapai punggungmu dengan tiba-tiba

Aku tau persis bagaimana harus menyentuhmu
Tapi akan lebih menyenangkan bila kuceritakan kisah tentang pencari rumput dan penjajah kembang yang saling mencintai dengan cara biasa

Aku bisa dan tau lebih banyak
Sungguh ahli dalam beberapa hal
Lalu apa yang kau khawatirkan?
Tentu saja ini masih tentang kamu

Senin, 22 Juni 2015

Doa Hamba

Kesedihan jenis apa yang mampu menandingi sedihnya hamba yang tak menemukan tuhan di rumah tuhannya?

Malam ini cintaku mendua atas restuMu
Sebab cinta untukMu tertinggal di kamar mandi dan ditawar oleh cinta yang tak mendapatkan restu bumi dari hambaMu selain aku

-Padahal, aku hendak berjalan tanpa menoleh tapi kau malah menarik lenganku sambil berkata;  masih ingat denganku?
Iya. Aku belum bisa melupakanmu!
Dan setelahnya aku tak ingat apa-apa lagi-

Maros, 22 Juni 2015

Minggu, 21 Juni 2015

*Infinitum

Maukah kau hidup denganku? - sehidup tak semati -
Aku tau bagaimana harus hidup dan belum untuk mati
Di hidup kutemukan kau surgaku yang pasti
Sedang mati tak pasti kupenuhinya undangan dari masa depan

Jika realitas cukup menyakiti
Bertahanlah dalam fantasiku
Sebab di retinamu kudapati aku yang lalu dan di pupilmu kuamini kau di masa mendatang
Seluruhku ada di matamu
Bertahan, apa adanya tanpa perlawanan

Di masa depan yang tak lama lagi menjadi kenangan
Tidak akan kuhianatinya
Demi kejadian yang lalu, yang berulang; rasis dan statis

Kamu ...
Seluruhku ada di matamu
Bertahan, apa adanya tanpa perlawanan

*adaptasi judul novel Infinitum karya Ahyar Anwar

Maros
21 Juni 2015