Setiap manusia memiliki cinta dan
kapasitas untuk cinta. Tapi mereka selalu lupa dan malas untuk untuk menentukan
batas dan pencapaian dari cinta. Hari ini, temanmu ini masih belum mengerti
akan segala hal tentang cinta. Tolong dituntun dan kalau bisa diberi jalan.
Bukankah sejak awal kau yang menawarkan pertemanan ini pun cinta itu?
Minggu, 14 September 2014
Selasa, 24 Juni 2014
Sebuah Definisi
Wanita ini, aku begitu mencintainya. Dia
selalu saja meminta untuk bertemu di sebuah sore. Entah kenapa harus sore,
padahal secepatnya aku harus kembali ke rumah. Begitu pun ia.
Aku bertemu dengannya di tempat yang kini
selalu menjadi tempat janjian kami. Di sebuah halte yang berada di sudut sebuah
taman, di pinggiran kota, jaraknya tak jauh dari kantor tempatku bekerja. Kami
tak punya alasan untuk selalu bertemu, kami menganggapnya sebuah basa-basi.
Selanjutnya, biarkan orang lain memaknainya apa. Kami bertemu sekaligus
menunggu. Menunggu takdir masing-masing.
Di suatu siang yang basah. Seseorang
melangkah ke arahku, dengan langkahnya
yang ringan ia memaksa angin untuk membelainya, memaksa dunia agar terpikat,
dan meminta waktu untuk diberhentikan. Kali ini ia kembali datang, masih dengan
seragam putih-abuabunya yang mulai kusut. Rambutnya ia gerai menyentuh bahu
menutupi kerah. Sesekali bibirnya terkatup, entah bicara maupun ketika ia
menahan kantuk. Wanita ini, mengapa aku selalu ingin melindunginya? Ia selalu
pandai menyapa dan mengawali perbincangan yang hangat, menawarkan sebuah topik,
kemudian memancingku untuk membicarakan apa saja dan menjawab apa saja yang ia
tanyakan. Sesederhana inikah alasan untuk mencintai?
“Ceritakan padaku sebuah kisah cinta
yang sangat kau sukai!” katanya memulai sebuah perbincangan. Aku sempat
tercengang sebelum akhirnya tersenyum geli mendengar pertanyaan lugu yang
sangat sulit untuk dijawab dengan jawaban yang lugu pula. Entah dari mana dan
akan mengalir ke mana perbincangan ini? Betapa ia tak menyadari, membicarakan
cinta berarti mebicarakan dunia yang serba absurd. Namun, dengan perbendaharaan
kata seadanya yang kumiliki kuceritakan sebuah kisah, entah karena apa aku
memilih momentum kisah cinta Sang Hanuman dan Trijata dari selipan kisah
Ramayana. Mungkin karena aku menyukainya. Mungkin.
“Suatu
ketika, di dalam suasana pelik, untuk pertama kalinya Hanuman mengagumi seorang
wanita. Meski cinta kadang tak membutuhkan alasan, tapi cinta Hanuman adalah
bukti konkret bahwa sebuah momentum jatuh cinta selalu memiliki alasannya
masing-masing. Ya, Hanuman mencintai ketangguhan seorang Trijata. Di sebuah petang yang kosong, untuk
pertama kalinya Trijata mengakui kebenaran hati, di pundak hanuman, Trijata
menjatuhkan mimpi dan seluruh ingatannya akan dunia baru, sesaat sebelum ia
terbangun dan menyadari bahwa mimpi mereka tidaklah sama”.
“Sesulit
itukah cinta? Mengapa cinta yang berbalaskan sekali pun selalu menemui alasan
untuk tak dilanjutkan?” katanya masih dengan wajah pucat yang tak pernah ia
poles kecuali dengan bedak.
“Entah
kenapa, seseorang tak pernah mengonvesionalkan
definisi cinta! Ini adalah subjektivitas yang berkembang secara objektif. Cinta
bukanlah satu-satunya alasan mengapa seseorang harus hidup bersama”, jawabku
sekenanya.
“Lantas,
atas dasar apa Hanuman tidak mengambil keputusan atas perasaannya? Dan Trijata,
Bukankah dia adalah perempuan yang tangguh? Mengapa memiliki cintanya tak
pernah ia usahakan?” mengapa pertanyaan ini bagaikan sebuah sindiran untukku?
“Usaha
tak selalu dilihat dari sebuah hasil. Atas dasar apa Trijata harus memaksakan
kehendaknya tanpa memikirkan
keputusan Sang hanuman? Keputusan untuk
saling melupakan di sebuah pagi yang berarti. Urusan hati adalah urusan
terpelik yang ada di dunia, berarti bagi mereka yang member arti. Apalah arti
cinta bagi Hanuman? Baginya cinta bukanlah hal yang utama”.
Tiba-tiba kendaraan bermotor menepi ke
arah kami, ia menoleh sekali kemudian kembali bertanya.
“Ini
adalah pertanyaanku yang terakhir untuk hari ini. Mengapa kau menyukai cerita
ini?” tanyanya sambil menyidik dengan nakal. Anak ini, pertanyaan macam apa
ini?
“Karena
istriku sangat menyukai cerita ini”, kataku sambil membelainya dengan lembut,
kemudian menyuruhnya agar secepatnya untuk
pulang.
Dia
tertawa sampai bola matanya basah, kemudian mengangguk lalu berbalik dengan
langkah yang ringan. Kupandangi ia sampai menghilang dari pandangan dengan
latar sore yang sesak oleh tumpukan jingga yang memenuhi ruang gerakku. Sekali
lagi aku menoleh kemudian mengalihkan pandangan ke arah toko bunga yang ada di
seberang jalan. Aku harus pulang untuk mempersiapkan perayaan hari pernikahanku
di tahun pertama.
Wanita itu, aku begitu mencintainya. Dia
yang selalu menemuiku hampir di setiap sore. Untuk apa? Ya, untuk apa saja.
Salah satunya untuk menunggu kekasihnya untuk menjemput.
Makassar, 20 Juni 2014
Vy
Jumat, 06 Juni 2014
Resensi Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma
A. Identitas Buku
Judul :
Kitab Omong Kosong
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit :
Bentang Pustaka
Tahun terbit :
2004
Jumlah Halaman : 444
ISBN :
978-602-7888-33-3
B. Sinopsis
Kisah ini berawal dari bencana persembahan kuda oleh Sri
Rama dari negeri Ayodya bersama dengan ribuan balatentara berkuda. Persembahan
kuda sebagai obat akan penyesalan atas
ketidakpercayaannya terhadap Dewi Sinta, terhadap kesucian titisan Dewi Laksmi
tersebut saat Rahwana menculik dan
membawanya ke negeri Alengka. Betapa kagetnya Sri Rama, sebab di tengah
penyerbuan seluruh anak benua, ia bertemu dengan dua orang anak laki-laki
kembar bernama Lawa dan Kusa. Mereka pun bertarung dan di luar dugaan Sri Rama,
anak berusia sepuluh tahun itu sangat sulit untuk ditaklukkan. Barulah kemudian
diketahui bahwa Lawa dan Kusa adalah anak kandungnya. Anak yang tak pernah
diketahui keberadaannya, tak pernah dipertanyakan nasibnya, pun tak pernah diusahakan untuk menemuinya. Di tengah kemalangan, Dewi Sinta
menerima permintaan maaf Sri Rama dan bersedia untuk kembali ke Ayodya. Tapi
posisi Sri Rama sebagai seorang raja selalu saja mendapatkan kritikan yang
menciptakan isu terhadap kehidupan pribadinya. Terlambat, sebab kekalutan atas
sikap tak percaya tak dapat lagi ditawar. Sungguh cinta tak pernah lahir di
atas pondasi kepercayaan yang rapuh.
Maneka adalah seorang pelacur yang merupakan salah satu korban dari persembahan kuda.
Suatu ketika ia memutuskan untuk kabur dari rumah pelacuran yang telah ia
tempati sejak ayahnya menjualnya demi beberapa kepingan logam. Ia merasa tak
sanggup jika harus melayani seisi kota sejak seseorang menyaksikan seekor kuda
putih melompat ke jendela dan kini kuda itu berada di punggung maneka dalam
bentuk rajah kuda. Perjalanannya untuk menemui Walmiki, Sang penulis riwayat
hidupnya, menuntun takdirnya bertemu dengan Satya, lelaki 16 tahun yang usianya
terpaut empat tahun di bawahnya. Perjalanan itu membawanya pada sejuta kejadian
yang tak terduga, menyedihkan, mengharukan, bahagia, aneh, dan sebagainya. Tak
satu pun peristiwa yang tak berkesan, sebab setiap detailnya selalu melahirkan
cinta di antara mereka berdua. Cinta yang tak pernah terucap.
Walmiki yang hidup dalam pengembaraan mulai asing dengan
kehidupannya. Setelah Maneka, satu per satu tokoh yang telah dituliskan riwayat
hidupnya dalam kisah Ramayana,
meminta izin untuk meninggalkan
cerita dan menuliskan riwayat hidupnya
sendiri. Namun, setelah itu pengembaraan Satya dan Maneka berlanjut untuk
mencari Kitab Omong Kosong yang tersebar di lima titik. Kitab ini sangat sulit
ditemukan sebab Hanuman, Sang winara putih yang sakti telah menempatkannya di
tiga dunia yang berbeda, yaitu dunia manusia, dunia siluman, dan dunia para dewa.
Apakah pengembaraan Satya dan Maneka dapat mengembalikan peradaban manusia yang hancur karena persembahan kuda?
Bagaimana mereka mengilhami isi dari Kitab Omong Kosong, dan bagaimanakah akhir
dari kisah cinta mereka?
Kebetulan bisa mengubah rencana seribu tahun
Manusia berjuang mengetahui rencana semesta
Rahasia langit rahasia bumi rahasia hati
Siapa mampu menguaknya sehingga berhingga
C. Timbangan Buku
Kekurangan: cerita
ini sangat kental dengan latar belakang kepercayaan Hindu-Buddha sehingga beberapa
kutipan, bahkan nama-nama yang dihadirkan sangat sulit untuk diingat bahkan
dilafalkan kembali.
Kelebihan: cerita yang ditawarkan
sangat kompleks dan komplit. Di mana pembaca tidak hanya diajak untuk
mengilhami dunia melalui pengembaraan ilmu filsafat, tetapi penulis juga
berusaha menghidupkan fantasi dan memberi kesempatan kepada pembaca untuk
menafsirkan kembali apa yang telah ada.
Selasa, 27 Mei 2014
Perempuan Dalam Etalase
Tengoklah bulan meski tak bisa kau miliki
di sana ada bau malam yang menjanjikan
aroma pagi rumput basah
Harapan,
Indah,
Menghancurkan !
Kau lupa akan matahari
memaksa untuk menerima
meminta untuk memihak
menguapkan embun dan mematahkan tangkai
melenyapkan hijau menghadirkan gersang
Aku benci siang
benci silaunya tradisi tanah bugis
tanah bugisku yang tandus akan hisapan pamali
di setiap lipatan lipa' sabbe
harapan di ujung badik aduan pappaseng
oleh mereka para leluhur
Kemana lagi akan kualirkan darah bugisku yang magis
di gersangnya siang atau damainya malam ?
Aku perempuan bugis,
menolak tradisi menerima takdir
Aku perempuan bugis,
dengan harga diri yang dipajang di etalase
di sana ada bau malam yang menjanjikan
aroma pagi rumput basah
Harapan,
Indah,
Menghancurkan !
Kau lupa akan matahari
memaksa untuk menerima
meminta untuk memihak
menguapkan embun dan mematahkan tangkai
melenyapkan hijau menghadirkan gersang
Aku benci siang
benci silaunya tradisi tanah bugis
tanah bugisku yang tandus akan hisapan pamali
di setiap lipatan lipa' sabbe
harapan di ujung badik aduan pappaseng
oleh mereka para leluhur
Kemana lagi akan kualirkan darah bugisku yang magis
di gersangnya siang atau damainya malam ?
Aku perempuan bugis,
menolak tradisi menerima takdir
Aku perempuan bugis,
dengan harga diri yang dipajang di etalase
Rabu, 23 April 2014
Sajak 00.13
Untuk
kekasihku yang selalu lupa mengingat kekasihnya
Apa
kebiasaanmu masih sama? Menghitung bintang sampai subuh kemudian tidur
pulas sampai tengah hari? Apa kau memiliki pesan yang sangat ingin kausampaikan
kepadaku?
“
Jangan menunggu larut untuk tidur karena tak ada pasar mana pun yang menawarkan
sekilo hemoglobin atau sekodi oksigen di emperan toko!”
Kurang
lebih seperti itu. Kalau tidak keliru
Di
sebuah pagi, kita menenun kabut menjadi embun. Apakah kau cukup menyadari,
kalau yang kauhirup adalah karbon dioksida? Hanya saja, berkamuflase menjadi
oksigen olahan industri yang dikemas di dalam kaleng aluminium. Pun uap yang
kaunamai embun adalah sebuah inovasi dari bentuk lama air mata beku yang
menyublim dan mendidih secara bersamaan dalam hitungan ribuan tahun cahaya.
Manusia
memang selalu bangga terlihat serakah. Makanya kubiarkan kau memiliki
segalanya. Tak terkecuali perhatian, senyum, dan rindu serta masa depanku.
Sampai di sini cukup itu saja.
Salam
penutup
Makassar, 25 Maret 2014
vy
Kamis, 13 Maret 2014
Hal Ikhwal Mengenai Cerpen
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam
pembelajaran prosa fiksi dibagi ke dalam tiga pembagian yaitu cerpen, novel,
dan drama. Di mana ketiganya memiliki ciri dan bentuknya sendiri. Namun, di
dalam makalah kami ini akan dikaji lebih dalam hal khwal mengenai cerpen.
Cerita
pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah
terkenal seperti Iliad
dan Odyssey
karya Homer.
Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama
yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya.
Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif
individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan
kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah
disampaikan.
Fabel,
yang umumnya berupa cerita rakyat
dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap
oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan
seorang budak Yunani yang bernama Aesop
pada abad ke-6 SM (meskipun ada
kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal
dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop.
Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel.
Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali,
diartikan sebagai cerita tentang binatang sebagai pemeran(tokoh) utama. Cerita
fabel yang populer misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya.
Selanjutnya,
jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita
kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite atau mitos lebih mengarah pada cerita
yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya
Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebagai sebuah cerita
mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.
Bentuk
kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran
Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan,
sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan.
Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum
pada abad
ke-13 atau 14.
Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad
ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi karya Sir
Roger de Coverley diterbitkan.
Pada
pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi
perkembangan novel pendek yang diperhalus, "nouvelle", oleh
pengarang-pengarang seperti Madame de
Lafayette. Pada 1690-an, dongeng-dongeng
tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal
adalah karya Charles Perrault).
Munculnya terjemahan modern pertama Seribu
Satu Malam karya Antoine Galland
(dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang
hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire,
Diderot
dan lain-lainnya pada abad ke-18.
1.2
Rumusan
Masalah
2.
Apa pengertian cerpen?
3.
Bagaimana unsur dan ciri khas cerpen?
4.
Bagaimana tips-tips menulis cerpen?
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Cerpen
Cerita pendek atau sering disingkat
sebagai cerpen adalah suatu
bentuk prosa
naratif
fiktif.
Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan
karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella
(dalam pengertian modern) dan novel.
Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik
sastra seperti tokoh,
plot,
tema,
bahasa
dan insight
secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa
dalam berbagai jenis. Cerpen condong kurang
kompleks dibanding dengan novel. Cerita pendek umumnya memusatkan perhatian
pada satu perihal, memiliki satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang
terbatas, termasuk periode waktu yang singkat.
2.2
Unsur
dan Ciri Khas Cerpen
Cerita pendek cenderung kurang
kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian
pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh
yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.
Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih
panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur
dramatis:
eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya); komplikasi
(peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat,
krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap
suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan
titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian
(bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.
Karena pendek, cerita-cerita pendek
dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita
pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal
yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam
cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung
klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita pendek
biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak)
pesan moral atau pelajaran praktis. Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuah
cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya. Cerpen mempunyai 2 unsur yaitu:
Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya itu
sendiri. Unsur-unsur intrinsik cerpen mencakup:
·
Tema
adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.
·
Latar(setting)
adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus
jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika
cerita berlangsung.
·
Alur
(plot) adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah
cerita.
Alur dibagi menjadi 3 yaitu:
1.
Alur
maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu
kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
2.
Alur
mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan
waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback).
3.
Alur
campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.
Alur meliputi beberapa tahap:
1. Pengantar:
bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal
cerita.
2.
Penampilan
masalah: bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
3. Puncak
ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik
telah memuncak.
4. Ketegangan
menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan
kekhawatiran mulai hilang.
5.
Penyelesaian
/ resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
·
Perwatakan
Menggambarkan watak atau karakter
seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui:
1.
Dialog
tokoh
2.
Penjelasan
tokoh
3.
Penggambaran
fisik tokoh
·
Tokoh
Tokoh adalah orang orang yang
diceritakan dalam cerita dan banyak mengambil peran dalam cerita. tokoh dibag
menjadi 3, yaitu:
1.
Tokoh
Prontagonis : tokoh utama pada cerita
2.
Tokoh
Antagonis : tokoh penentang atau lawan dari tokoh utama
3.
Tokoh
Tritagonis : penengah dari tokoh utama dan tokoh lawan
·
Nilai
(amanat) adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui
cerita.
Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur
yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi
bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi:
·
Nilai-nilai
dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi)
·
Latar
belakang kehidupan pengarang
·
Situasi
sosial ketika cerita itu diciptakan
2.3
Tips-Tips Menulis Cerpen
Paragraf pertama memancing pertanyaan pembaca. Paragraf pertama sebuah cerpen menarik karena memicu rasa ingin tahu pembaca. Pertanyaan menyuap orang agar meneruskan bacaan.
- Membuka dengan masalah yang harus diselesaikan oleh karakter
Pembaca ingin tahu bagaimana karakter menyelesaikan masalah? Perubahan apa yang terjadi pada diri karakter setelah melewati masalah? (resolusi).
- Membuka dengan aksi (insiden)
- Membuka dengan garis besar cerita tapi menahan informasi
penting mengenai motif
- Membuka dengan pertanda bahaya (ketegangan)
- Membuka dengan menampilkan lokasi cerita
Ada alasan mengapa kelima pembukaan cerpen diatas lansung memperkenalkan
karakternya. Penulisnya tahu sifat dasar manusia. Setelah semua, manusia paling
tertarik dengan sesamanya. Itu sebabnya kehadiran karakter, atau nama orang,
lansung menarik perhatian pembaca.
Contoh
cerpen Selamat Ulang Tahun dalam
kumpulan cerpen Rectoverso karya Dewi Lestari
Hai,
Aku sedang
menebak-nebak, kira-kira prosesi apa yang tegah kamu siapkan. Kamu selalu
tergila-gila berprosesi. Segala sesuatu harus dihantarkan secara sempurna dan
terencana. Perayaan dan peringatan menyesaki kalender kita sepanjang tahun, dan
tidak pernah kamu bosan, bahkan kamu semakin ahli. Malam ini kamu menantangku
berhitung dengan stop-watch.
Teleponku akan bordering setengah jam lagi. Sungguh, kamu sudah sehebat itu.
Janjimu adalah matahariku yang terbit dan terbenam tanpa pernah keliru.
Sambil
menunggu, izinkan aku berkelekar mengenai kau dan sayap. Sejak kepindahanku ke
negara lain, kamu terobsesi dengan segala makhluk bersayap. Kamu percaya bahwa
manusia bersayap adalah hibrida termulia, di atas manusia bersirip dan berinsang.
Aku ingin percaya kamu cukup cerdas untuk tidak mencoba terbang kemari.
Kalaupun itu bisa terjadi, aku khawatir kamu mati lemas di jalan lalu jatuh ke
laut. Dimakan hiu. Dan jadilah kalian hibrida yang luar biasa. Manusia bersayap
di dalam perut makhluk bersirip berinsang.
Dengan caramu
mengagungkan momentum, kamu membuatku ikut percaya betapa sakralnya peluk cuim
14 februari atau tiupan terompet tahun baru yang harus jatuh tepat pada
hitungan 00.00. Kamu membuatku percaya ada poin tambahan jika memperlakukan
hidup seperti arena balap lari. Namun imanku pada arena itu luruh dalam satu
malam karena kegagalanmu mencapai garis finish.
Lihatlah detik itu, jarum jam itu, momentum yang tak lagi berarti di detik
pertama kamu gagal mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan… lima menit yang
lalu…
Aku
tidak tahu kemalangan jenis apa yang menimpa kamu, tapi aku ingin percaya ada
insiden yang cukup dahsyat di dunia serba seluler ini hingga kamu tidak bisa
menghubungiku. Mungkinkah matahari lupa ingatan lalu keasyikan terbenam atau
terlambat terbit? Bahkan kiamat pun hanya bicara soal arah yang terbaik, bukan
soal perubahan jadwal. Atau mungkinkah ini akan jadi salah satu tanda kiamat
kecil yang orang ramai gunjingkan, tentang lelaki berbaju perempuan, perempuan
berbaju lelaki, lelaki bercinta dengan lelaki, dan perempuan bercinta dengan
perempuan, dan kalu menengok sejarah manusia ribuan tahun terakhir ini,
tidakkah tanah semacam itu sudah apkir, klise, dan kiamat harus menyiapkan
tanda-tanda baru bila masih ingin jadi hari yang paling diantisipasi, dengan
misalnya, mengadopsi absurditas yang terjadi malam ini? Malam di mana kamu
terlambat mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan… satu jam yang lalu…
Satu waktu nanti, saat kamu
berhenti percaya manusia bisa punya sayap selain lempeng besi yang didorong
mesin jet, saat kamu berhenti percaya hidup lebih bermakna bila ada wasit
menyalakkan aba-aba “1,2,3”, kamu boleh terus percaya bahwa kemarin… besok…
lusa… dan hari-hari sesudah itu… aku masih di sini. Menunggu kamu mengucapkan apa
yang harus kamu ucapkan… berjam-jam yang lalu.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Cerpen
condong kurang kompleks dibanding dengan novel. Cerita pendek umumnya
memusatkan perhatian pada satu perihal, memiliki satu plot, setting yang
tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, termasuk periode waktu yang singkat.
Dalam
cerpen terdapat dua unsur pembangun yaitu unsur intrinsik (tema, latar, alur,
perwatakan, tokoh, dn amanat) dan unsur ekstrinsik yaitu:
·
Nilai-nilai
dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi)
·
Latar
belakang kehidupan pengarang
·
Situasi
sosial ketika cerita itu diciptakan
DAFTAR PUSTAKA
Ali,
Markus. 2013. “Unsur dan Ciri-ciri Cerpen”. http://unsur-dan-ciri-ciri-cerpen.blogspot.com. Diunduh 6 Maret 2014, pukul 21.21 WITA
Dachlan,
Anto. 2014. “Tips Menulis”. http://5caramenulisparagrafpertama-indonesia.blogspot.com. Diunduh 6 Maret 2014, pukul 20.18 WITA
Lestari, Dewi. 2008. Rectoverso. Jakarta: Goodaith.
Wikipedia Bahasa
Indonesia. 2013. “Cerita Pendek”. http://ceritapendek.html.com diunduh 6 Maret 2014, pukul 21.14 WITA
Langganan:
Postingan (Atom)