Sabtu, 21 September 2013

Ulasan Singkat Beginning Theory "Pater Barry"


Pendahuluan
                Sastra adalah sesuatu yang sangat luas cakupannya, berkembang seiring dengan zamannya dan terus berevolusi sesuai dengan kebutuhan. Di dalam makalah yang meriview kembali buku Beginning Theory milik Pater Barry ini dapat didapatkan materi tentang bagaimana sastra berawal dan kemudian bagaimana sastra disatukan dan dipisahkan dengan bahasa dan lain sebagainya. Terdapat pula beberapa kritik-kritik populer pada zamannya dan masih bertahan sampai saai ini. Dari sini kita juga dapat mengetahui bagaimana sebuah teori muncul, dikembangkan, kemudian dipopulerkan yang mengalami banyak hambatan dan perbaikan serta persaingan dengan teori-teori lain yang bermunculan.














BAB 1    
Teori Sebelum ‘Teori’ ‒ Humanisme Liberal
                Bahasa Inggris adalah mata kuliah yang memeperkenalkan prinsip humanisme liberal yang lebih mengutamakan kelas menengah sebagai kelas khas Inggris. Dalam berbagai perdebatan, pro dan kontra tentang Bahasa Inggris sebagai bahan ajaran di berbagai perguruan tinggi di Inggris, akhirnya diputuskan bahwa sastra harus dipelajari bersama-sama dengan bahasa, jika tidak sastra tidak akan menjadi subjek akademis sama sekali. Ada beberapa metode yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris, metode yang paling terkenal adalah metode yang secara tegas memisahkan antara bahasa dan sastra, dan dalam suatu kondisi studi sastra menjadi lebih terasing lagi sampai pada akhirnya, studi sastra menyatakan bebas dari studi bahasa.
Sepuluh

Penyair Angkatan 70an

1. Arsyad Indradi: a. Pensiunan pegawai negeri
b. Buku pertama yang diterbitkan adalah Antologi Puisi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan
c. Penyair "gila"

2. Hamberan Syahbana: a. Kembali menulis pada tahun 2008
b. Aktif mengikuti kegiatan sastra di Kalsel
c. Menerima penghargaan bidang teater oleh Gubernur Provinsi Kalsel,2010.

3. Ajamuddin Tifani: a. Penyair kelahiran Banjarmasin, 23 September 1951
b. Diasumsikan khas berkecenderungan sufistik
c. Upaya untuk menjaga orisinalitas tema atau pokok kajian

4. Eza Thabri Husano: a. Beberapa karya puisinya dibukukan, berupa antologi puisi
b. Menerima Penghargaan Seni Bidang Sastra dari Gubernur Provensi Kalsel, 1996
c. Menerima penghargaan dari Walikota Banjarbaru bidang Sastra, 2004

5. Bakhiar Sanderta: a. Pria kelahiran Awayan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan
b. Menerima penghargaan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2008
c. Seniman Banjar yang kini berusia 69 tahun

6. Hamami Adaby: a. Lahir di Banjarmasin, 3 Mei l942
b. Salah satu karyanya yang terkenal yaitu tentang rasa
c. Kumpulan puisi sendiri : Desah (1984), Iqra (1997), 3 judul buku puisi Dunia Telur dsb.

7. Abdul Karim Amar: a. Abdul Hamid adalah nama sebenarnya
b. Lahir di Kertak Hanyar, 10 November 1950
c. Pada tahun 1977 -1980 bertugas sebagai tenaga Honorer di Studi Pemda Kotabaru

8. Ajamuddin Tifani: a. Kekuatannya menggunakan citraan alam
b. Salah satu sajaknya yaitu  ”Risalah Embun”
c. Sang Sufi dari Alam

9. Johan Kalayan: a. Seorang Penyair Banjarmasin
b. Penulis novel, Penulis naskah film dan sinetron
c. Salah satu pengurus PARFI Nasional.

10. Putu Wijaya: a. Lahir di Tabanan Bali, 11 April 1944
b. Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum UGM pada tahun 1969
c. Pernah menjadi anggota Bengkel Teater pada tahun 1967

11. Sutardji Calzoum Bachri: a. Lahir pada tanggal 24 Juni di Rengat, Riau
b. Pada tahun 1975 ia mengikuti festival Penyair Internasional di Rotterdam
c. Sejak September 1979, ia menjadi redaktur Majalah Horison

12. Danarto: a. Lahir pada tanggal 27 Juni di Mojowetan, Sragen Jawa tengah
b. Dosen di Institut Kesenian Jakarta sejak 1973
c. Lulusan ASRI Yogya tahun 1961

13. Iwan Simatupang: a. Lahir di Sibolga, Sumatera Utara pada tanggal 18 November 1928
b. Meninggal di Jakarta tanggal 4 agustus 1970
c. Pernah menjadi komandan pasukan TRIP di Sumatera Utara tahun 1949

14. Budi Darma: a. Lair tanggal 25 april 1937 di Rembang, Jawa Tengah
b. Dosen IKIP Surabaya
c. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (1963)

15. Emha Ainun Najib: a. Lair pada tanggal 27 Mei di Jombang, Jawa Timur
b. Pernah memimpin Teater Dinasti, Yogya
c. Pernah mengikuti loka karya teater Peta, Filifina (1980)

16. Kuntowijoyo: a. Salah satu karyanya di atas bukit
b. Novelnya bertemakan kegelisahan batin
c. Banyak menggunakan kata-kata mutiara sebagai pengungkap renungan hidup

17. Umar Kayam: a. Bauk
b. Seribu kunang-kunang di Manhattan
c. Musim Gugur kembali di Connecticut

18. Ibramsyah Barbary: a. Kembali menulis pada tahun 2008
b. Aktif mengikuti kegiatan sastra di Kalsel
c. menghimpun puisinya yang ditulisnya dari tahun 1963 – 2011 dalam antologi puisinya Perjalanan ke Istana Putih

Jumat, 20 September 2013

Ambigu



Aku ingin memulainya dengan menarik napas panjang. Terkadang seseorang lupa bagaimana dan kapan terakhir kali dia jujur kepada dirinya sendiri, bagaimana dia memiliki raganya atau menguasai ilusinya. Apakah keterlaluan ketika seseorang yang belum mengenali dirinya sendiri melangkah terlalu jauh? Bukannya tidak mengenali. Mungkin saja khilaf, terlalu lama bersenang-senang, sampai akhirnya dia menyadari bahwa selama ini dia melangkah tanpa tujuan. Kasihanilah orang ini, dia hanya ingin hidup dengan bebas tanpa aturan norma yang mengikat. Terlalu sering dia mengurungkan niatnya untuk jujur hanya karena realitas sosial. Berharap ada undang-undang yang melampirkan aturan “ wahai engkau masyarakat luas, bedakanlah kejujuran dengan ketidakmaluan “! Dan setelah itu orang-orang jujur akan mendapatkan tempatnya sendiri di masyarakat tanpa predikat tidak tahu malu.
            Aku hanya ingin jujur. Tapi, setelah ini apakah benar akan terjamin bahwa semuanya akan baik-baik saja? Sungguh kenyataan yang ambigu. Idealisme dan realisme masih dipertanyakan. Mengapa suatu teori harus mengikut pada apa yang ada? Kira-kira sampai kapan kemapanan itu tetap kokoh dan apa yang akan terjadi jika kemapanan realisme runtuh?
            Seseorang harus menyeimbangkan antara logika dan perasaannya! Membicarakannya saja gampang, lalu bagaimana kita merealiasikannya? Logika adalah apa yang nampak dan perasaan adalah yang hanya diketahui oleh pemilik perasaan itu. Apakah iya, sesuatu yang berlawanan bisa berjalan beriringan? Lalu bagaimana kita menanggapi anggapan yang menyatakan bahwa hidup adalah pilihan! Dalam hidup ini selalu ada yang lebih terlihat daripada sesuatu yang lain. Jadi, jangan pernah memaksakan suatu keseimbangan yang pada akhirnya berakhir pada ketidak konsistenan.


Semuanya masih dipertanyakan!

D’MATA (Sahabat atau Kepentingan)


D’MATA
(Sahabat atau Kepentingan)

“Tidak ada sahabat sejati, yang ada hanya kepentingan!”. Sebuah kalimat pro kontra yang sekilas terdengar jahat tapi di sisi lain tidak dapat dibenarkan kesalahannya. Satu sisi kami sahabat tapi di sisi lain ada kepentingan yang terlihat jelas, sedikit lucu tapi kebetulan. Sampai sekarang saya pribadi masih tidak bisa membedakan antara sahabat dan kepentingan, mungkin karena sekat yang terlalu tipis dan transparan itulah, sehingga ketika kita tidak menggunakan kacamata nurani maka semuanya akan terlihat sempurna seperti sebuah kepentingan. Ya, kepentingan yang terbungkus oleh kebersamaan.
Entah dari mana aku akan dan ingin memulainya. Hmm, baiklah, aku akan memulainya dari kata kunci kita hari ini. Kepentingan!. Kisah ini berawal dari kepentingan Mus kepada kedua temannya yang juga temanku, Dien dan Ay kami bertiga berteman dan dengan begitu, kemudian aku harus berteman dengannya. Apakah aku harus menjelaskan kepentingan seperti apa yang kumaksud?, berusaha sedikit transparan dan netral, akhirnya aku memutuskan untuk menjelaskannya lebih detail.
“Di dunia ini tidak ada yang kebetulan, yang ada hanya sebab akibat”. Awalnya aku sedikit membantahnya, tapi sekarang aku sadar akan kebenarannya. Tentunya dengan melihat kenyataan dan realitas yang ada. Hari rabu, aku memutuskan pulang lebih awal karena hanya ada satu mata kuliah hari itu. Pagi itu aku pergi dan ternyata juga pulang lebih awal daripada kedua temanku, setelah tiba di depan kos yang kurang lebih enam bulan telah kami huni itu, aku menyadari telah membuat kesalahan fatal yang dampaknya mungkin akan jauh lebih buruk daripada yang dibayangkan sebelumnya. Kunci pintu utama tertinggal di dalam kamar yang juga pasti terkunci. Aku mengintip dari celah pintu yang sedikit membantu karena telah menyisahkan celah untukku hari itu, tidak banyak membantu tapi setidaknya ada sedikit tindakan berbentuk usaha untuk mencari jalan keluar untuk bisa masuk di dalam ruangan yang ternyata terlihat bisu merindukan penghuninya. Ya, tidak ada orang di dalam. Sedikit menyesal aku menengadah melihat kabar awan yang kurang baik di atas sana, sepertinya hari ini alam tak bersahabat. Setelah melalui panas yang amat panas, mungkin setelah ini aku harus berpapasan dengan hujan. Hujan di bulan februari memang terkadang kurang konsisten, untungnya aku berhasil berteduh sebelum amukan air yang berhasil lolos dari jeratan awan hitam itu menghakimiku dengan sedikit tidak manusiawi.
Satu, dua, tiga dan empat. Bukan bermaksud untuk berhitung apalagi memberi aba-aba, tapi itu adalah rentang waktu dimana aku harus menunggu sesuatu yang pada akhirnya bisa membawaku kesebuah tempat yang nyaman dan aman untukku kemudian beristirahat, yaitu kamarku. Tapi sejauh ini tidak ada tanda-tanda kehidupan, semuanya seakan mati kecuali deretan huruf yang dari tadi mengajakku bercengkrama dengan berbagai humor yang membuatku lupa untuk bosan dan lelah untuk menunggu. Marmut Merah jambu, karya non fiksi milik Raditya Dika yang tidak terlalu tebal untuk ukuran novel tapi juga terlalu padat untuk disebut novelet. Seperti pelangi setelah hujan, Dien dan Ay akhirnya datang juga. Sedikit pun tidak membantu tapi setidaknya ada yang menemaniku untuk mencari jalan keluar. Dan benar saja, Dien memberikan sebuah jalan keluar yang tidak terlalu buruk untuk dicoba.
“bagaimana kalau kita ke kos kak Mus, setidaknya sampai kak Riska datang”. Kak Riska adalah penghuni kos selain kami, satu-satunya pemegang kunci yang dapat menyelamatkan kami saat itu.
“ide bagus” sambung Ay
“tidak ada jalan lain”, kataku. Kesimpulan dari kami bertiga berujung pada keputusan. Dien mengirim pesan singkat kepada kak Mus untuk menjemput kami bertiga di kondisi yang sosial yang membutuhkan banyak bantuan.
Tidak berselang lama, kak Mus datang dengan beberapa orang lainnya. Terlalu panjang untuk disebutkan satu persatu. Yang pasti cukup memberikan tumpangan untuk kami bertiga.
Tidak membutuhkan waktu yang pajang untuk sampai di tempat tujuan karena tempatnya tidak terlalu jauh, sekitar 500 meter dari tempat kami. Hmm ruangan ini seketika hidup karena kehadiran kami, sedikit merasa asing aku memutuskan untuk tidak banyak bicara karena orang-orang selain “kami” lebih tepatnya aku adalah teman-teman sekelas Dien, Ay dan kak Mus. Memang aku tidak satu kelas dengan mereka. Sampai pada akhirnya hanya tersisa aku, Dien, Ay dan kak Mus di ruangan tiga kali empat itu.
“Assalamu alaikum”. Terdengar suara dari balik pintu. Itu Lin, teman sekelas Dien, Ay dan kak Mus, aku tahu dan kenal tapi tidak cukup banyak tahu dan kenal tentang dirinya.
“Waalaikum salam”. Jawab kami bersamaan bagaikan kelompok paduan suara yang menggelar konser tunggal.
Mereka banyak berbincang-bincang, banyak bercanda dan sesekali diiringi suara tawa yang terdengar sangat lepas. Aku tidak terlalu bersuara tapi sesekali aku juga ikut tertawa ketika Kak Mus sebagai pengendali suasana itu menceritakan atau menciptakan humor-humor tertentu, aku masih sibuk dengan game Zuma yang kumainkan sejak aku datang di tempat ini sampai pada akhirnya hujan kembali menyerang bumi dengan kemarahan yang semakin ganas. Sesekali petir menyambar dan riuh angin bergemuruh menyapu setiap pepohonan yang ia jumpai, terdengar sedikit ekstrem tapi itulah kenyataannya.
Mereka kemudian lebih banyak diam, mungkin mereka mengalah kepada gemuruh air hujan yang menimpai atap kos yang sudah terlihat tua itu secara bertubi-tubi. Hanya suara petikan senar gitar kak Mus yang mendominasi suara-suara yang ada di dalam ruangan. Lagu demi lagu dan tawa demi tawa terjadi di ruangan itu, semua terlihat baik-baik saja sampai sesuatu terjadi.
“atapnya bocor”, kata Ay dengan ekspresi prihatin atau mengejek aku sulit membedakannya.
“temboknya juga merembes”, sambung Dien.
Suasana pun sedikit bising oleh suara tawa yang tak tertahankan lagi setelah baskom-baskom bahkan stoples berserakan di mana-mana. Suara tawaku makin lepas, mungkin aku sudah mulai terbiasa dengan mereka. Seketika tempat itu terlihat seperti water boom dengan genangan air di mana-mana. Sepertinya banyak energi yang terbuang hari ini. Selain pikiran yang terkuras di ruang perkuliahan, sepertinya tertawa sejak tadi juga menghabiskan banyak energi. Oleh karena itu, kami mulai mendiskusikan makanan apa yang cukup pas untuk mood kita hari ini. Tapi sepertinya perbincangan itu melahirkan perbincangan yang baru. Inilah hidup, tekadang ada sesuatu yang disebut rahasia, sedikit privasi dan tidak semua orang bisa mengetahuinya. Ada sesuatu yang tidak kuketahui dan tidak ingin kuketahui tapi sangat ingin diketahui oleh Dien dan Ay, sesuatu yang disembunyikan oleh kak Mus dan Alin. Di luar hujan masih deras tapi mereka berdua terlihat bodoh ketika membiarkan badan mereka basah kuyup, sebelumnya aku pernah melihat kejadian seperti ini tapi hanya di sinetron dan FTV. Ada sesuatu yang kurasakan setelah mereka pergi yaitu kekhawatiran Lin dan ketakutan kak Mus, takut terjadi sesuatu kepada Dien dan Ay. Seketika aku merasakan energi positif yang memenuhi setiap partikel yang ada di ruangan ini. Apakah sikap mereka sudah cukup intim untuk dikategorikan sebagai sahabat?. Pertanyaanku terjawab beberapa menit kemudian, ketika aku merasakan perhatian seseorang kepada seseorang yang lain. Berlangsung sederhana, lambat tapi pasti.
Pukul 21 teng, dan tidak ada lagi alasan untuk tinggal lebih lama di tempat yang makin lama makin lembab ini (tidak ada maksud apa-apa). Sepertinya langit juga sudah mulai mengerti, kini runtutan air hujan hanya sebatas gerimis. Usahanya pun untuk membuat kuyup sudah terlihat minimum. Dengan mengendarai motor, aku berboncengan dengan Lin, Dien dan Ay bersama kak Mus. Malam ini jalanan yang kami lalui terlihat istimewa, bukan hamparan karpet merah tapi genangan air yang berwarna kecokelatan. Ya, banjir. Banjir memang hal yang wajar di kota ini, maklum saja hujan malam ini lumayan deras. Kapasitas air sudah cukup untuk memenuhi got kemudian menggenangi jalan. Aku dan Lin tiba di kos dengan selamat, sehat wal afiat, tidak kurang satu pun dan Alhamdulillah masih dalam keadaan bernyawa. Tapi ada apa dengan kak Mus, Dien dan Ay. Sesekali aku dan Lin melihat ke belakang tapi belum ada tanda-tanda keberadaan dari mereka, lambat tapi pasti guyuran hujan kembali deras. Dalam hati menanyakan keadaan mereka tapi terlalu berlebihan jika dianggap sebagai rasa khawatir. Lin menyusul mereka dan apa yang terjadi, mereka benar basah kuyup. Bukan karena guyuran hujan dari awan melainkan dari genangan air yang tingginya selutut. Sungguh ini hiburan malam yang menyenangkan, melihat dua orang temanku seperti kucing kecebur got.
Malam ini kepulangan kak Mus dan Lin dihalangi hujan, tidak ada alternatif lain selain nginap. Lantai malam ini sangat tidak bersahabat, terlalu dingin untuk menyentuh kulit yang sedari tadi pori-porinya telah lelah menyerap air hujan. Akhirnya kami berlima melepas lelah dengan berbagi ruang di satu kasur yang sejujurnya hanya cukup untuk tiga orang itu, sekilas kami terlihat seperti ikan sarden tapi malam itu adalah awal dari kepentingan kami masing-masing. Kepentingan kami, aku Dien dan Ay kepada kak Mus dan Lin, begitupun sebaliknya.
Sejak hari itu kepentingan satu sama lain mewarnai hidup kami, memenuhi kebutuhan dan harapan-harapan kami serta kebersamaan yang sulit digambarkan keindahannya. Bukan karena terlalu indah melainkan kadang meragukan untuk dikategorikan indah. Kak Mus adalah leader dalam kehidupan kami, tidak berlebihan tapi hanya berusaha jujur. Ketika dia melucu, kami tertawa, ketika dia berbagi kami menerimanya tanpa beban dan ketika dia curhat kami mendengarkannya walaupun terkadang dia selalu lupa waktu. Bahkan ketika dia marah, semuanya diam entah berbalik marah atau merasa bersalah. Yang pasti dia sangat pandai mengendalikan hari-hari kami. Lin adalah filter dari seorang kak Mus, menurutnya diam itu emas (ulaweng mammekko’e), semuanya relatif dan yang pasti dia selalu terlihat bodoh ketika membicarakan mantannya. Hahaha dan satu lagi, galau adalah kebutuhannya. Ay adalah yang paling muda di antara kami berlima, tapi itu secara fisik. Di sisi lain dia selalu menjadi orang yang paling tua, bukan keibuan tapi “kenenek’an”. Di dunia ini, lebih banyak hal yang tidak disukai daripada disukainya. Mungkin dia berniat untuk mencari dunianya sendiri setelah ini. Dien adalah partner terbaik untuk kak Mus. Meskipun mereka sering bertengkar dan merajuk satu sama lain tapi sadar atau tidak sadar, Dien selalu membutuhkan kak Mus dan begitupun sebaliknya (kepentingan). Dan kabarnya Dien dan Ay akan menjadi istri pertama dan kedua dari kak Mus, sementara aku hanya mendapatkan jatah menjadi seorang pembantu. Sedikit tidak fair tapi itu lebih baik daripada poligami. Dan aku adalah penonton terbaik dalam cerita tak bernaskah ini, katanya aku adalah orang terbodoh kedua setelah Lin.
Setiap hari kurang lebih dua belas jam kami berbagi kisah secara tersirat maupun tersurat. Kisah tentang kak Mus dan khayalannya, Lin dan harapannya, Dien dan bayangannya, Ay dan kenyataannya, serta aku dan kenanganku. 13 Maret 2013 kemarin, kami menyatukan visi misi kami dalam sebuah organisasi yaitu D’MATA (Dien, Mus, Ay, Tee dan Alin). Sebuah organisasi informal yang berlandaskan iman dan takwa dengan sedikit pembohongan, dengan motto sahabat atau kepentingan. Puncaknya adalah ketika kami berlima menuliskan imajinasi, harapan dan untaian kata-kata terindah yang kami miliki di sebuah tembok yang menjadi saksi bisu sekaligus artefak perjanjian serta kontrak persahabatan di antara kami berlima. Kami menyebutnya dinding curhat.
Hari ini leader sekaligus Abang kami kembali merajuk. Ngambek dan pergi begitu saja dengan alasan yang cukup absurd. “Aku pergi bukan karena ‘apapun’ tapi karena ‘walaupun’!” katanya dua hari yang lalu melalui pesan singkat. Entah itu salah atau keliru, kami berharap semua itu tidak benar. Karena banyak hal yang merindukannya di tempat ini selain aku, Dien, Ay dan Lin yaitu bintang dan hujan di malam hari. Walaupun beberapa hari ini langit sudah mulai cerah tapi terjadi mendung di dalam hati kami, mendung yang entah mengapa sangat ganjil dan menyisahkan kekosongan. Apakah kekosongan ini akan terisi kembali atau kembali terbiasa? Entahlah.
Flashback tentang kebiasaan kami. Ay akan tidur ketika dia lapar, Dien tiarap ketika sakit perut, Lin sedang galau ketika dia mendengarkan musik lewat separuh hidupnya (handphone), Mus menghabiskan banyak waktu luangnya bersama segelas kopi, dan aku yang akan tidur nyenyak di samping tembok.
By: Kartini Ridwan, 24 maret 2013
Di antara kekosongan yang tercipta. J

Satu Kali Satu Samadengan Satu


           
Terkadang yang salah tak selalu salah. Lalu mengapa di sini aku yang salah, seperti tersambar petir di siang bolong. Aku mendapati diriku seperti orang yang teramat takut. Ya, takut akan kenyataan itupun tidak terlalu nyata untuk ukuran abege labil yang terkapar galau tak berdaya dan mungkin  entar lagi tak bernyawa.
            Sungguh dramatis. Bukan. Ini bukan dramatis, hanya saja ini terlalu dibuat-buat. Wake up guys. Kata salah satu teman memberi semangat. Lebih tepatnya dia memberitahu kalau seseorang yang cintanya tak sampai tidak akan mati dalam hitungan hari.
Ini sahabatku dan ini gebetanku, daripada gigit sahabat mending gigit gebetan (maaf, ini iklan favoritku). Di suatu hari yang tenang, aku dan sahabatku membicarakan banyak hal. Mulai dari hal kecil seperti bakteri sampai hal yang ngga pernah terpikirkan sebelumnya seperti kantong ajaib Doraemon yang merupakan cikal bakal lahirnya supermarket. Tiba-tiba handphonenya bunyi memecah keheningan malam.
‘Telefon dari siapa sis?’ tanyaku tak bagitu ingin tahu.
‘Ngga penting’ jawabnya dari kejauhan.
Sejak malam itu aku tak pernah lagi menanyakan perkara penelfon misterius itu, karena intensitas orang itu menelfon itu terlalu sering, sesekali aku kembali bertanya tapi jawabannya selalu sama. Ya udah, mungkin itu privasi. Kataku merasa keren.
Sahabatku siska (panjangannya siskamling) memang manis dan menarik. Dan itu fakta, aku juga manis dan menarik. Dan itu opini. Soal cinta, temanku yang satu ini memang sangat senior. Ibarat jenjang pendidikan dia sudah di tingkat universitas, sementara aku masih di tingkat playgroup. Perbandingannya sangat jelas katika kami berdua jalan bareng dan melewati beberapa cowo komplek yang gayanya kece abis. Siska jalan bagaikan pemeran utama di sebuah serial FTV sementara aku hanya pemeran pembantu yang mentok di dapur, ngepel dan beres-beres. Selain itu Siska juga pandai mengajak orang berkenalan. Sementara aku, baru ditanya ‘nama kamu siapa?’ paling standar pucat, pingsan dan setelah itu kejang-kejang. Kasihan sekali.
‘Ah … biasa aja’. Padahal dalam hati, Tuhan Siapakah aku?
Belakangan ini aku jatuh cinta, sebelumnya kebahagiaan itu aku pendam sendiri sampai akhirnya aku ketahuan karena sebuah kalimat yang tempo hari aku baca di status biadab yang kutemukan di facebook. Untungnya aku tidak terpengaruh (walaupun sempat sedikit ingin mencoba). Katanya kalau orang jatuh cinta, tai kucing rasa cokelat. Aku kedapatan oleh Siska memperhatikan tai kucing di halaman rumah. Karena bohong itu dosa akhirnya aku jujur dengan sedikit berbohong. Awalnya aku malu menceritakan kedilemaanku ini, tapi dengan gaya ala cherrybelle aku berhasil menceritakannya kepada Siska.
‘Akhirnya kamu bisa jatuh cinta juga!’. Kasarnya: maaf selama ini aku pikir kamu tidak normal. 
‘Tapi jangan beritahu teman-teman yang lain, aku malu’.
‘Siapa laki-laki spesial itu?’. Tahun 2013, laki-laki mulai disejajarkan dengan martabak.
‘S-es Ssurya’, kataku dengan wajah kemerahan, kadang hijau dan sesekali abu-abu. Tergantung lingkungan (kenapa seperti bunglon?)
‘Ohh’ respon Siska singkat.
Sejak hari itu, aku mencintai Surya dengan caraku. Aku tidak megatakan tentang mencintai diam-diam karena setidaknya ada orang lain yang kuberitahu, yaitu Siska. Suatu hari saat aku dan Siska pulang kuliah, Surya menghampiri kami. Sapaannya sih biasa tapi efeknya ngga bisa tidur sampai satu minggu. Surya adalah teman sekelas kami. Cowo kece, sederhana tapi memesona, agak jaim dan ngga pernah ngacak-ngacak tong sampah (nah lo!).
Hari-hari kulewati dengan menikmati cinta monyetku. Lebih tepatnya cinta monyet yang udah ketuaan, cinta monyet yang datangnya telat dan cinta monyet yang …. (sensor). Hari itu aku mendapati Surya di pusat perbelanjaan, dari jauh dia terlihat seperti Edward di film twilight dan aku menghampirinya seakan-akan aku adalah Bella. Tiba-tiba aku melihat ada orang ketiga di sana. Aku diam, apakah itu Jacob? Tentu saja bukan, dia seorang perempuan. Itu sepertinya (diam sejenak) Siska! Kataku dengan wajah ala Nikita Willi di sinetron Putri yang Tertukar, gregetnya dapet banget. Sampai pada akhirnya ngga ada yang ngomong cut cut cut. Ya Tuhan, aku ngga lagi main sinetron, berarti ini nyata.
Ternyata mereka udah jadian. Cinta pertamaku kini telah menjadi milik sahabatku.
‘Maaf ya’, kata Siska hari itu yang dengan sempurna berdiri di samping Surya dengan status mereka yang baru p-a-c-a-r-a-n.
‘Nyantai aja’, padahal dalam hati: ngga usah sok polos gembel.
‘Oh iya, kalian mau ke mana?’
‘Nonton’, jawaban-jawaban Siska tak sedikit pun mengandung unsur rasa bersalah. ‘kalau kamu mau ke mana?’
‘pulang’. Kepengen bakar semua bioskop yang ada di kota ini.
‘Mau ikutan ngga?’, semakin dia ramah, semakin aku marah tapi jangan lupa untuk stay cool.
‘ngga usah, makasih’. Bagaimana kalau kalian yang ikut aku ke lantai atas trus aku jorokin, kalau polisi nanya. Aku bakalan bilang mungkin mereka lagi praktikum ilmu Fisika tentang gaya gravitasi bumi. Aku memang cerdas.
            Sampai sekarang aku selalu berusaha untuk melupakan kejadian itu, kejadian yang membuat aku sadar kalau cinta monyet tak seharusnya sama dengan cinta pertama. Lebih tepatnya lagi Surya adalah monyet pertama yang membuat aku takut untuk mengenal monyet-monyet yang lain. Membahasakan cinta sejati sperti ilmu pasti, 1×1=1, ngga bisa dipaksa menjadi dua atau tiga. Begitulah cinta sejati, satu aja cukup. Kalau ada dua mungkin namanya adalah dwicinta.

Kartini Ridwan