Minggu, 24 Januari 2016

Tepi

Membabi buta kau memgibaratkan sisi lembutku seperti ombak yang menghempas. Selalu. Berlebih.
Tapi kau selalu lupa
Ombak akan menepi jika ia menemukan tepi
Di tepian

Kandang, 24 Januari 2016

Sabtu, 21 November 2015

Kopi

Maka apalah kandungan yang mengaliri seampas kopi dan sesisa pahit di tenggorokan?
Mungkin ada yang mesti dikenang meski mercusuar menjulang kesepian menunggu kapal-kapal untuk menepih

Tentu terjaga adalah cara terbaik untuk menguraikan pahit di ulu hati juga di lubuk hati

Sao Panrita 12 November 2015

Sabtu, 26 September 2015

Rumah (2)

Kutitipkan dunia di telapak tanganmu
Semoga yang kauiyakan kuterima tanpa kata tetapi
Jangan beranjak sekalipun bayang-bayang meninggalkanku

Akan kupinjamkan sebelah sayapku untukmu terbang
Asal kau tak lupa kembali
Melengkapi kepakan rindu dan indahnya temaram
Sampai kita menemukan ikatan terbaik dari setiap luka yang telah lalu

Matamu adalah segala kelapangan tempat kenanganku akan mengakar dan hidup dalam kedamaian
Tempat ternyaman untukku jatuh dan lupa kembali

Untukmu aku berhenti
Kau adalah keteduhan
Layaknya rumah
Tempatku pulang

Maros, 26 September 2015

Senin, 17 Agustus 2015

Selamat Ulang Tahun

Kurang tiga puluh menit sebelum tengah malam, kutau Tuhan selalu terjaga sekalipun dunia sedang terlelap
Sungguh aku sangat ingin bertamu, mengajakNya bercengkrama, dan mengenalkanmu kepadaNya.
Sedikitnya, akan kukatakan bahwa sebentar lagi usiamu bertambah setahun.
Semoga kamu senantiasa dirahmatiNya.
Semakin bertambah usiamu, semakin aku ingin tenggelam dan tak ingin menjadi dewasa. Semoga ini tak memberatkanmu.
Sebelum kembali karena secangkir kopiku kini hanya tersisa ampasnya, sekali lagi kuminta kepada Tuhan agar kau senantiasa sehat, tetap sehat, dan harus baik-baik saja.
Happy birthday!!

Jumat, 14 Agustus 2015

Undangan

Apa kau tak ingin kembali?
Hari ini sajakku merayakan harinya yang ke tiga ratus enam puluh lima
Datanglah walau hanya sekadar berucap doa panjang umur dan murah rezeki
Demi kemurahan hati tuan rumah
Kuberimu waktu sampai empat dari lima lembar yang tersisa
Banyak yang perlu kusiapkan karena itu datanglah lebih awal
Agar kita dapat mengisi lembar terakhir bersama-sama

Makassar, 13 Agustus 2015

Kamis, 16 Juli 2015

Satu Syawal Ketiga Kita

Perasaanku ternyata tak pernah berubah setiap kali aku berdiri pada hamparan kesedihan, tepat ke arah selatan aku memandang ke belakang. Jauh ke belakang. Sangat jauh.
Peganganku ternyata tak pernah cukup untuk membuatku berdamai dengan hidup. Dengan latah aku mengeja satu persatu usaha yang telah kubangun. Ah gagal!
Tidak apa-apa, setidaknya kedatanganku hanya untuk mendoakanmu sekaligus menebus rinduku padamu. Juga pada Tuhan kita.
Aku gemetar, sayang! Aku gugup, aku menangis dengan air mata yang telah usang.
Hari ini adalah tahun ketiga aku berkunjung, satu syawal ketiga aku menekur pasrah di hadapan nisanmu. Itu berarti ini sudah tahun ketiga kehendak takdir dan nasib memisahkan kita.
Doaku cukup sederhana, di sana kau menemukan kedamaian dan tak kesepian. Semoga ada kesempatan di satu syawal yang akan datang.
Alfatiha...

Maros, 17 Juli 2015

Kamis, 09 Juli 2015

Dua Sajak Renta (sebuah nama belakang)

#
Apa yang hendak kau curi dari seorang perenung sepertiku?
Kepunyaanku hanyalah sajak-sajak renta yang mulai udzur karena petualangan
Atau kau ingin mengambil yang itu?
kusarankan tidak perlu
Tak ada yang pantas dicuri dari apa yang telah kau miliki
Sejak dulu
Telah lama

#
Tidak akan kudapati aku yang bingung ketika memikirkan namamu tepat berada di belakang namaku
Tak ada alibi -mutlak-
Telah diatur dengan baik meski tergesah-gesah dan sepintas lalu
Maka dari itu tetaplah di sana dengan manis
Yang perlu kau lakukan hanyalah mendoakanku dengan baik
Karena kini, kau tentu lebih dekat dengan Tuhan

Kartini Ridwan_
Makassar, 9 Juli 2015