Kamis, 19 Desember 2013

Sebelumnya, Ketika Perkara Belum Selesai


Entah dengan apa lagi, cara apa lagi dan dengan bahasa apa lagi! Ini hanya masalah waktu, bom waktu. Terlalu sering aku bersenang-senang dan melupakan satu hal, “kenyataan”. Tidak bisa dipungkiri bahwa aku benar-benar manusia munafik dan egois. Mengatakan “tidak apa-apa” padahal ini adalah apa-apa. Egois karena aku tak pernah membagi sesuatu yang seharusnya sejak awal tak  kumiliki sendiri.
          Siluet punggungmu dari kejauhan seakan mengabur dan sesekali hilang dari pandanganku. Aku terkantuk-kantuk dan sesekali pula mataku terpejam sempurna setiap beberapa menit. Ini sudah malam namun belum terbilang larut tapi mataku rasanya sangat berat, terbuka lebar jika ada suara yang tiba-tiba terdengar mahadahsyat atau pun sekadar memicing jika terdengar suara seseorang yang mampu membuat aliran darahku mengalir deras, yang sedari tadi, yang kulihat hanyalah siluetnya.
          Diskusi rutin seminggu sekali adalah sesuatu yang begitu membosankan bagiku, mungkin. Bagaimana tidak, diskusi yang berbelit-belit itu hanya mengurangi jatah istirahat plus jatah tidur tentunya. Berbusa-busa mereka membicarakan tentang kemahasiswaan, birokrasi, kapitalisme, idealisme, realisme, dan blablabla. Tak banyak yang bisa kutangkap dan kupahami. Yang kutahu setiap minggu aku duduk, memerhatikan seseorang dari jauh dan jika sempat, mendengarkan lebih banyak apa yang sempat ia katakan. Menyenangkan, bukan?
          Film panjang di dalam khayalanku itu tiba-tiba bersambung ketika salah satu teman menginterupsi agar aku ke belakang untuk membantu teman-teman yang lain menyiapkan konsumsi berupa gorengan dan bergelas-gelas kopi. Sederhana memang, lebih tepatnya seadanya karena sedikit-banyaknya dana yang terkumpul berdasarkan banyak-tidaknya anggota yang hadir. Di dapur, aku mendapatkan ucapan selamat datang yang eksklusif dari cipratan minyak panas. Tapi itu hanyalah kejutan kecil yang pertama, kejutan yang lain adalah aku bertemu dengan orang baru ─ yang setelahnya kuketahui kalau dia adalah pacar dari pak ketua, yang sejak awal menjadi tujuan utamaku datang ke tempat ini, untuk melihat siluetnya. Tak perlu juga aku menanyakan sejak kapan mereka berpacaran karena sepertinya dua kejutan saja sudah lebih dari cukup dalam rentan waktu semalam.
          Perempuan itu sungguh biasa-biasa saja, gerakan tangannya saat menuang kopi pun terlihat sangat kikuk. Tapi dia terlihat sangat modis, pakaian sederhana namun bermerek itu cukup mewakili pernyataan sebelumnya. Setelah semuanya siap kami bergegas membawa nampan-nampan untuk selanjutnya diedarkan ke tengah-tengah peserta diskusi. Tiba-tiba langkahku berhenti dan kurapatkan punggungku ke tembok. Sesuatu terjadi saat aku hendak meletakkan segelas kopi di hadapan pak ketua, untuk kedua kalinya, perempuan modis itu mendahuluiku. Terbersit rasa iri di hatiku tapi untuk apa? Dia tidak terlihat lebih baik dariku. Ahh sikap optimisku terdengar sangat sombong sepertinya.
          Kupikir aku akan baik-baik saja setelahnya. Tapi tidak berhenti di situ, perempuan modis itu mengambil tempat persis di sebelah pak ketua, bersila dan terlihat sangat rapat. Muka lesuhku tak dapat kusembunyikan lagi, aku cemburu. Setelah tugasku selesai aku kembali mengambil tempat jauh ke belakang, membungkus rapi perasaanku agar tak seorang pun tahu bahwa malam ini, untuk pertama kalinya aku ingin cepat-cepat pulang.
          Seminggu setelahnya, antusiasku mengikuti diskusi mengalami penurunan yang sangat drastis. Aku pun sudah jarang memerhatikan pak ketua dari jauh, dan mengabaikan kehadirannya yang hanya berjarak beberapa sentimeter. Menyadari itu, setelah dua minggu ogah-ogahan datang ke forum ─ di suatu kesempatan yang kurang tepat, pak ketua menghampiriku. Katanya “sudah lupa sama himpunannya ya?” sebuah pertanyaan iseng-iseng yang jika diteruskan tentu membutuhkan penjelasan yang panjang. “maaf kanda, saya lagi buru-buru” kataku sembari mengatur napas yang membutuhkan banyak oksigen. “baiklah, penjelasannya menyusul di forum pekan ini”. Tak perlu berkata iya, sebab senyumanku sudah mewakili semuanya. Termasuk kenapa aku absen di beberapa pertemuan.
          Diskusi kali ini, tak seperti biasanya, aku mengambil tempat yang cukup ekstrem ─ tepat di hadapan pak ketua. Aku menyebutnya sebagai perayaan kecil serta ucapan terima kasih karena tidak akan ada yang mengganjal di pandangan sekaligus di hati sepanjang berlangsungnya diskusi. Sebab, tak ada siapa-siapa di samping pak ketua, pun perempuan modis itu.
          “ada pertanyaan?”, pak ketua mengedarkan pandangannya. “atau mungkin ada yang ingin disampaikan berupa uneg-uneg, kritik dan saran atau semacamnya!” seiring dari berakhirnya kalimat itu, pandangan pak ketua berhenti, mata kami beradu. “tidak ada!”, anggap itu sebagai jawaban seseorang yang grogi karena tak nyaman ditatap berlama-lama oleh seseorang yang dikaguminya satu tahun terakhir, tepat setelah memutuskan untuk bergabung dengan himpunan kemahasiswaan fakultas. Gugupku terbaca oleh orang-orang, suara tawa terdengar serempak memenuhi ruangan. Aku hanya bisa tersenyum, sebisanya. Pura-pura tidak mengerti.
          Hujan menghalangiku pulang malam ini, karena harus berjalan beberapa meter untuk menunggu angkutan umum, kuputuskan untuk menunggu hujan reda, setidaknya sampai gerimis. Tiba-tiba pak ketua berdiri tepat di sebelahku “sepertinya tidak ada tanda-tanda akan reda”, katanya, seakan-akan bisa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh diamku. Tidak kutemukan tanggapan terbaik untuk momen terbaik ini. “sendirian saja kanda?” kuharap pertanyaan dadakan ini cukup hangat untuk mencairkan suasana. “berdua”, jawabnya tanpa menoleh. “pacar?”, tanyaku ragu. “ya kamulah”. Katanya sambil tertawa kecil, di sebelahnya aku tersenyum simpul, sepertinya aku harus banyak belajar padanya bagaimana cara menciptakan obrolan yang hangat.
          Malam itu ─ sungguh kesempatan yang langkah ─ kami mengobrol cukup lama, dan yang tak kalah membuatku terus-terusan tersenyum adalah pernyataan bahwa dia dan gadis modis itu sudah tak bersama lantaran tidaklah cocok. Katanya ”gadis realistis seperti dia terlalu membuan-buang waktunya untuk seorang yang idealis seperti saya”. Sungguh jawaban yang teoretis.
          Malam mulai larut tapi hujan tak kunjung reda, ruangan kesekretariatan pun mulai lengang karena hanya beberapa yang masih tinggal, menghabiskan waktu dengan bernyanyi santai diiringi petikan gitar. Setelah beberapa kali melirik arloji di pergelangan tangan, kuputuskan untuk menerobos kekonsistenan ribuan rintik hujan. Pak ketua berbaik hati mengantarkanku menunggu angkutan umum, bonus yang indah.
          Di sore hari setelah jam kuliah berakhir, setelah lelah dan laparku segera kubayar di kantin kampus bersama dua teman yang lain. Di perjalanan pulang kudapati pak ketua bersama beberapa teman ribut dengan candaan khas yang sesekali diselingi suara tawa. “tatapan matanya ke kamu jas, masa kamu nggak sadar dia naksir sama kamu”, “nggak cuma itu, dia sering banget loh perhatiin kamu dari jauh”, “dan kalau kamu ngomong matanya nggak kedip”. Serbuan kata-kata itu hanya ditanggapi pak ketua dengan muka adem ayem. “itu hanya perasaan kalian saja, Rima itu adalah adik yang harus kita jaga seperti halnya anggota-anggota himpunan yang lain”. Aku kaget, daun telingaku menangkap sebuah nama, aku tahu mereka sedang membicarakanku. Salahku memang yang tak pandai menyembunyikan perasaan, bahasa tubuhku sangat jelas dan mataku berbicara dengan blak-blakan, memberitahu kepada siapa saja yang mempelajarinya kalau aku menaruh rasa padanya. Aku berlalu menyapa mereka ramah, seolah tak pernah mendengar percakapan mereka.
          Kejadian tadi sore sudah cukup jelas, perasaan yang selama ini kuagung-agungkan hanya menjadi selingan di dalam beberapa candaan teman-teman kak Anjas. Yang harus kuupayakan sekarang adalah bagaimana caranya agar perasaan ini kusisihkan sebagian untuk kepentingan harga diri. Tidak mudah memang tapi tidak ada salahnya untuk diupayakan.
          Beberapa kali aku absen di pertemuan rutin, anggap saja ini salah satu upaya. Di kamar tiga kali empat ini, aku menghabiskan waktu dengan menghayal dan setiap beberapa menit kulirik jam dinding yang terletak di salah satu sisi ruangan “pukul tujuh. Seharusnya sekarang aku sudah siap-siap untuk diskusi di sekret”, kataku sambil menutup wajah dengan guling. Lamunanku buyar, seseorang mengetuk pintu kamar sambil meneriakkan namaku. Salah seorang teman sebelah kamar memberitahu bahwa seseorang mencariku dan sekarang menunggu di depan. Siapa pula teman yang datang tanpa mengabari terlebih dahulu, keluhku dalam hati.
          Di teras kudapati kak Anjas berdiri membelakangiku. “eh pak ketua, selamat malam, ada yang bisa dibantu”, sapaku dengan senyum senang yang sekuat mungkin kurapikan di dasar. “ingin menjemput anggota pemalas yang jam segini masih enak-enakan di dalam kamar”, katanya sembari berbalik dan menghujatku dengan tatapan menantang. “maaf kanda, belakangan aku jenuh, bosan berlama-lama di sekret. Suasana di kos jauh membuatku lebih tenang dan nyaman”, aku menunduk dengan pandangan lesuh, percakapan singkat ini membuat kakiku berat, berada di posisiku sangat tidak menyenangkan saat ini. “belakangan aku juga jenuh, bosan berlama-lama di sekret. Setelah menyadari bahwa suasana di kos jauh membuatmu lebih tenang dan nyaman”. Kakiku kehilangan daya, secepatnya kucari sandaran yang bisa menguatkanku, kak Anjas mengikuti langkahku untuk mengambil tempat duduk di sebuah bangku kayu persis di sebelahku.
          Sebisa mungkin kuperlihatkan respon yang biasa-biasa saja tapi percuma, kak Anjas menyadari perubahan air mukaku yang tak biasa-biasa. “aku tahu apa yang kau rasakan sekarang, kau sakit, bukan! Jelas kau sakit, sesuatu yang seharusnya kau bagi sejak awal malah kau miliki sendiri. Kau egois, mencintai diri sendiri. Kau bodoh, berusaha mematikan sesuatu yang sebelumnya tumbuh dengan indah. Lihatlah apa yang terjadi sekarang, vaksin yang kau ciptakan telah menjadi racun, mematikan semua saraf kepekaanmu. Kau sempurna kalah”.
          Aku terpojok. Apapun yang terjadi, diam tak bisa menyelamatkanku. “cukup kak, aku memang bodoh sebab aku hanyalah seorang pemimpi, penghayal, dan hanya bisa berharap. Pasif. Tapi tolong jangan menghujatku dengan kata egois, karena selama ini aku mencintai dalam diam, berharap kelak dia akan menjadi seorang sahabat. Sederhana, bukan? Sahabat yang jauh lebih memahami, mengenal, dan melengkapi satu sama lain. Bukankah sahabat jauh lebih mengerti dari siapa pun? Aku ingin menjadi sahabat terbaik untuknya, entah hari ini, besok, dan seterusnya. Mendampingi dengan predikat sahabat terbaik, mendampingi sampai ke sebuah puncak pengharapan yang nyata”. Beban itu mengalir bersama air mata. Jelas mereka sama-sama memahami situasi yang terjadi. Perkara selesai.
          “mulai hari ini kita akan bersahabat”, katanya sambil bersandar di pundakku. Perkara belum selesai.



Kamis, 05 Desember 2013

Puisi Tadi Sore


Sisa dari Setetes Tinta
(Oleh: Kartini)

Beberapa langkah setelah perapatan
Bermukim kau dengan singgasanamu
Aku terdiam dengan banyak-banyak rasa
Kau tak diam dengan banyak-banyak massa

Setelah beberapa langkah dari perapatan
Adakah kau sejenak lupa akan singgasanamu?
Hendakkanlah atau bisakanlah
Wujud tak berdaya tanpa raga
berbaur semrawut pada sebuah dasar
bernama perasaan

Kau pemimpin dan aku pemimpi
Kau pembicara dan aku pendengar
Hidupkah aku?
Nyatakah engkau?

Tanpa sepengetahuanmu
Di dasar itu,
engkau nyata dalam hidupku
meskipun kenyataan tak menghidupkanmu

I

Sabtu, 30 November 2013

Cailah . . .


Sang
(Oleh: Kartini Ridwan)

Aku . . .
Di hadapanmu mematung
Di sampingmu tersenyum
dan di belakangmu sumringah
Ada yang berhenti, Sang cinta!
Ada sesuatu yang bernama beban
Perasaan itu sedang terseret memenuhi ruang hampa rasa
Kalahkan semua-muanya, sekuat-kuatnya
Menangkan perasaanmu
atas wadah kosong yang selalu melompong
Tuntun diammu wahai Sang pemilik
Arahkanlah . . .
Tuntun ...
Serahkan !

Makassar, 26 Oktober 2013
Diam bukan jawabannya, kan?

Rabu, 06 November 2013

Kau Tahu Itu, kan?


Aku menemukannya, aku kembali menemukanmu. Kau tahu itu, kan? Sini aku beritahu, kalau aku bertemu dengan seseorang yang di matanya juga kulihat matamu. Entah ketika tanganku menggapai tangannya pertama kali waktu berkenalan, menatapku sambil tersenyum lalu berlalu, berbicara sekali lalu berbalik, diam tapi peduli atau mungkin ketika memerhatikannya lekat-lekat ─ di tengah suasana remang aku melihatnya juga melihatmu. Melihat kalian.
            Satu episode kembali berakhir malam itu. Tak ketinggalan, realitas berganti sesaat setelah kudapati dirinya duduk persis di sebelahku. Aku tahu apa yang terjadi, imajinasiku menjuarai pertarungan itu. Intuisiku bekerja ─ benar yang dikatakan Carl Gustav Jung bahwa mimpi adalah penyeimbang dalam kehidupan kita. Ketika yang kita inginkan tak dapat dipenuhi oleh sesuatu yang bernama kenyataan, maka mimpi datang bagaikan pahlawan menawarkan sesuatu yang mustahil dipersembahkan oleh kenyataan yang seakan-akan linear itu.
            Kau tahu apa yang terjadi setelahnya? Perasaanku buncah, pikiranku kacau, dan entahlah. Persis di sebelahku dia berbicara sangat tenang tapi tegas. Gesturnya sudah seperti orator sungguhan kupikir. Ingin rasanya aku menggapai tangan itu, menggeggamnya lama seperti kebiasaanku dulu. Kau ingat itu, kan?
            Lama dia berbicara, lama pula aku terdiam. Di tempat itu kami berkumpul seperti biasa, membicarakan apa saja yang memungkinkan untuk dibahas kemudian diperdebatkan. Dan lihatlah, sudah bosan mungkin kau mendengarnya tapi ingin kembali kuulangi bahwa dia persis di sebelahku. Pandanganku lurus saja tapi secepat mungkin kuarahkan pandanganku sembilan puluh derajat ke kiri ketika dia kembali angkat suara. Kau tahu bukan apa yang kusukai ketika dia berbicara? Ya, gerakan tangannya. Iya, gerakan tangan.
            Hari itu libur, tak ada kuliah. Langit mulai sendu merindukan malam dan dia tiba-tiba datang dengan kondisi yang memprihatinkan. Kulihat beberapa kulit mulusnya di bagian lutut dan siku sempurna tergerut aspal dengan darah yang mengental, belum kering. Beberapa luka lebam dan langkah terseok-seok melengkapi kedramatisannya hari itu. Jelas terbaca bahwa tersirat kata aduh di setiap perubahan air mukanya. Kau bisa tebak bukan apa yang kulakukan saat itu? Diam terpaku, menatap kosong, wajah pucat pasih, makanan tadi siang minta dikeluarkan karena organ tubuh bagian dalam melakukan penolakan ke seluruh anggota tubuh bagian luar, dan parahnya menutup mata lalu pergi sejauh mungkin. Jika itu yang kau pikirkan, kau benar tapi tidak sepenuhnya benar.
            Aku menatap kosong, wajah pucat pasih, makanan tadi siang minta dikeluarkan karena organ tubuh bagian dalam melakukan penolakan ke seluruh anggota tubuh bagian luar, hampir menutup mata tapi tanganku justru sigap menyentuh pundak dan membopongnya. Entah sejak kapan intuisiku setajam ini, mungkin kau lebih tahu.
            Tidak. Aku tidak pergi begitu saja setelahnya. Kupanaskan air sampai mendidih lalu kutunggu hangat, secepat mungkin aku mencari kain perca atau pun sejenisnya tapi tidak kutemukan. Kau tidak keberatan kan kalau aku menggunakan sapu tangan pemberianmu untuk membersihkan lukanya? Aku yakin kau pasti tersenyum dengan ekspresi heran khasmu. Tentu saja kau mengizinkan karena untuk pertama kalinya aku melakukan hal yang seekstrem itu. Melawan rasa takut demi membantu orang lain. Jangan salah, sekarang aku sudah lebih kuat.
            Waktu itu, di ruangan itu bukan hanya aku dan dirinya tapi aku yakin, hanya kau yang menyadari kekakuanku. Baru kali ini aku menyaksikan simbolis dari sebuah penderitaan secara langsung dan kasat mata. Tanganku gemetar melawan ketakutanku sendiri, takut membuatnya jauh lebih sakit. Apakah kau menyadari kalau dia menyadari kekakuanku? Kupikir begitu. Kubilang saja kalau aku kaget karena ternyata airnya masih cukup panas untuk menyentuh kulit. Dan dia percaya. Sama sepertimu dia selalu percaya.
            Dia mulai bercerita tentang kecelakaan kecil yang menimpanya. Katanya “hanya perkara lubang sekecil itu, ditambah sedikit keteledoran dan mungkin peluang takdir saat itu memang mendominasi permainan”. Ah, jawaban macam apa lagi itu. Entah dari mana lagi dia mengutipnya! Aku bergumam dalam hati sambil membersihkan lukanya. Mungkin kau tidak akan percaya atau setidaknya tidak langsung percaya kalau aku merasakan sedikit kesakitannya. Kemampuan super spiritual itu kudapatkan ketika aku meminta Tuhan membagi sedikit rasa sakitmu kepadaku. Semacam penebus dosa, mungkin. Hehehe.
            Sama sepertiku, dia sangat suka bercerita. Dia sangat sombong, kau tahu? Tak ingin mengalah sekali pun ─ tak pernah sekali pun. Sedikit membuka mata hatiku kalau kalian tak sama, setidaknya kau selalu berusaha mengalah, dan aku tidak mau mengalah meski kusadari kalau aku salah. Dengan wajah tenangmu kau selalu membuatku merasa bersalah dengan kemenanganku, sementara dia, selalu membuatku merasa bersalah atas semua kemenangan yang kudapatkan ketika bersamamu dulu dengan wajah tenangnya. Itu sudah lama berlalu, bukan? Jadi abaikan!
            Sekarang, di tempat ini aku duduk sendiri. Lebih tepatnya merasa sendiri. Dia tak ada di sini dan kehadiranmu pun hanya sebatas rasa. Pergi tanpa pamit adalah kebiasaannya. Entah di sana kau tertawa atas hati keras yang tak pemaaf ini atau mungkin kau tersenyum kecil memahami kelemahan berpikir rasionalku. Tidak dengan keduanya, karena seharusnya kau tersinggung. Aku baru saja menyinggung kebiasaan terburukmu yang tak akan terlupakan sepanjang masa. Baru saja kutarik napas sedalam-dalamnya dan secepatnya kuhembuskan bersama udara yang menguap agar hati ini bisa memaafkan dan pikiran rasionalku dapat segera kufungsikan kembali.
            Aduh kenapa jadi terbawa suasana seperti ini! Hmm .. menarik mungkin kalau aku kembali bercerita saja.
            Di suatu siang yang biasa-biasa saja, setelah bercengkrama cukup lama, kami bernyanyi dengan suara sumbang dan seadanya. Tidak, tidak ada petikan gitar karena di tempat itu tak satu pun yang memiliki dan bisa memainkannya, tak terkecuali dia. Untuk pertama kalinya aku tak menemukan pertautan kalian di dalam rantai kejadian itu. Jelas kau ada tapi tidak di mata, gerakan tangan, wajah tenang atau pun ucapan-ucapannya. Dia berdiri sendiri dalam terang, tak ada bayangan apa pun yang mengelilinginya. Pun dengan hikayat kehidupannya lagi. Semuanya hilang begitu saja. Menguap, melebur, mengkristal, terpontang-panting terbawa arus deras ke sebuah hulu yang bernama peraasaan dan selanjutnya mengendap di lautan realitas. Kejadian sederhana itu terproses cepat di otak kananku dengan saraf neuron motorik yang bekerja sempurna dan dengan lirih aku berbisik “kau kekasihku dan dia . . .” Aku terhenyak, belum sempat kata itu kutuntaskan sekelebat bayangan serupa ambiguitas berlalu, membuat kosa kataku berkurang setengahnya ─ belum menemukan kata yang pas.
            Oh iya. Pernah loh aku menceritakan kisah kita kepadanya. Beruntung, bukan? Kutahu kau akan tertawa sampai napasmu sesak mendengar ini tapi memang benar dia beruntung, bisa mendengar sebuah kisah super romantis yang tak klise dari narasumbernya langsung. Kepada presiden pun tak akan kuceritakan meski ia memintaku bercerita secara eksklusif dan disiarkan secara live di seluruh stasiun televisi nasional. Hahaha .. narsis ya?
            Kau masih ingat tentang Linkin Park? Band favoritmu yang tak pernah dan tak ingin kuketahui alirannya. Dan tak lupa band Rock and Roll yang foto-fotonya sering kujumpai di wall facebookmu yang sejujurnya lebih mirip setan daripada penyanyi, serta kostum yang lebih pantas dipakai saat perayaan hellowind ketimbang di sebuah konser tunggal. Setiap bertemu kau selalu menggebu-gebu menceritakan tentang kunci gitar hasil eksperimen yang bisa membuatmu seharian mengurung diri di dalam kamar. Sinar matamu berbinar sementara aku lesuh di sampingmu tak menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Mungkin kau heran kenapa aku mengungkit hal yang tidak menyenangkan ini tapi aku ingin kau mendengarkan baik-baik yang satu ini.
            Sejak hari di mana aku tak pernah berhasil menunjukkan keantusiasanku terhadap selera bermusikmu, sejak aku tak pernah bisa memberikanmu apa-apa, dan sejak toleransi atas kepergianmu yang selalu tanpa pamit itu mengisi ruang baru yang seharusnya tak pernah ada. Sejak itu pula aku kehabisan nyawa untuk mempertahankan hubungan kita. Benar aku pergi, pergi jauh, sangat jauh. Dan di tempat yang jauh itu aku merindukamu, merindukanmu lagi, sangat merindukanmu. Kusadari satu hal, mungkin tidak akan bersalah jika aku berusaha mencintai apa yang kau cintai. Dan ketika aku berusaha membangun keantusiasanku, kau balas dendam. Kau juga pergi, pergi jauh, sangat jauh. Apakah kau merindukanku di tempat yang jauh itu?
            Kemudian ketika dia datang, ketika aku melihatnya juga melihatmu, kebodohanku berkamuflase dalam sebuah keantusiasan. Aku berusaha sekuat mungkin mencintai apa yang ia cintai, antusias atas apa pun yang ia katakan, menatap matanya ketika ia menjadi lawan bicaraku, menjadi orang lain dan memberikannya sebuah hadiah kecil di hari ulang tahunnya. Itu ntuknya sekaligus untukmu. Entah penebus dosa atau pun keegoisan.
            Hari ini dia tak di sini ketika aku menuliskan cerita ini, tapi kau ada di sini. Dia sahabatku dan kau . . .
Sudahlah, sudah terlalu banyak aku bercerita padahal jelas kau lebih banyak tahu daripada aku. Bukankah semuanya terlihat sangat jelas dari atas sana?

Selasa, 22 Oktober 2013

Resensi Buku Pengantar Ilmu Sastra



A.  Identitas Buku
Judul                    : Pengantar Ilmu Sastra
Penulis                 : Jan Van Luxemburg, Mieke Bal dan Willem G. Weststeijn
Penerjemah          : Dick Hartoko
Penerbit               : PT Gramedia   
Tahun Terbit        :1984
Jumlah halaman   : 223
B.  Sinopsis
Pada dasarnya ilmu sastra dan bahasa memilki kaitan namun pelajaran sastra perlu diberikan secara tersendiri, tetapi ada juga alasan untuk membaurkan pengajaran bahasa dan sastra. Tidak sedikit pengertian sastra yang ada, karena tidak bisa dipungkiri bahwa sastra terus berkembang dan definisi mengikuti alur perkembangan itu.
Berbicara tentang sastra, tentu tak pernah lepas dari penikmat karya sastra yang notabennya adalah masyarakat pada umumnya. Sastra dan masyarakat terbagi menjadi dua yaitu mimesis(penjiplakan) dan fiksionalitas(menciptakan sebuah dunia sendiri).  Pertanyaan yang sering muncul adalah, seperti apa hubungan sastra dan masyarakat dan sejauh mana sastra mencerminkan kenyataan. Menurut Plato, karya sastra sepenuhnya menjiplak kenyataan. Namun, Aristoteles beranggapan bahwa karya sastra tidak sepenuhnya menjiplak, melainkan merupakan proses kreatif, penyair, sambil bertitik pangkal pada kenyataan, mencitakan sesuatu yang baru. Sementara Marx dan Lenin memandang hubungan sastra dan masyarakat dari segi tatanan masyarakat. Lenin berpendapat bahwa karya sastra tidak hanya mencerminkan kenyataan, sastra dapat dan harus turut membangun masyarakat.
Di lain sisi, kaum formalis beranggapan bahwa sastra sama seperti seni yang lainnya, memunyai kemampuan untuk memperlihatkan kenyataan dengan suatu cara baru. Dengan demkian, kita menjadi lebih sadar akan kenyataan menurut sifat yang sesungguhnya. Setelah kaum formalis, muncul pula kaum strukturalis yang memliki pandangan tidak jauh berbeda namun kaum strukturalisme sangat mementingkan penelitian empirisme.